Pembelajaran 2. Standar Kertas dan Tata Letak pada
Gambar Teknik
A. Deskripsi
Komunikasi
merupakan proses penyampaian informasi dari pengirim ke penerima. Penyampaian informasi tidak hanya
dapat dilakukan secara lisan tetapi juga bisa melalui gambar. Komunikasi secara
lisan memiliki keterbatasan dalam menjelaskan sebuah bentuk. Walaupun pemberi
informasi memiliki kemampuan menjelaskan yang baik namun penerima informasi
belum tentu memiliki gambaran yang sama. Oleh karena itu, media gambar dapat
dijadikan salah satu sarana penyampaian informasi.

Gambar 28. Pillow
Sumber:
amazonsupply.com
Coba anda
jelaskan bentuk di atas secara rinci kepada salah seorang teman dan tugaskan
dia untuk membuat gambar sketsanya berdasarkan penjelasan anda. Apakah gambar
sketsa yang dibuat oleh teman anda mendekati bentuk dan ukuran objek
sebenarnya? Kesimpulannya, bahasa lisan sangat terbatas dalam menjelaskan
ukuran, bentuk dan fungsi secara rinci sesuai dengan aslinya.
Penyampaian
ide, pemikiran atau rencana dari suatu konstruksi kerja kepada orang lain
disebut dengan gambar teknik. Bila benda kerja yang diinformasikan dalam bentuk
sederhana maka ide atau konstruksi benda tersebut akan mudah difahami namun
bagimana bila konstruksinya ternyata rumit ?
Untuk
memudahkan hal tersebut dibutuhkan suatu standar (ketetapan) sehingga setiap
orang yang membuat atau membaca gambar teknik memiliki persepsi yang sama.
Aturan gambar dibuat atas persetujuan bersama antar orang-orang yang
bersangkutan. Peraturan tersebut dijadikan acuan di lingkup mana orang bekerja.
Standar yang
digunakan dalam perusahaan disebut dengan standarisasi perusahaan/industri,
untuk lingkup negara disebut dengan standarisasi nasional
dan untuk kerjasama antar industri
secara internasional disebut dengan standarisasi internasional.
Standarisasi gambar teknik berfungsi
sebagai berikut:
1.
Memberikan kepastian sesuai dan tidak sesuai
kepada pembuat dan pembaca gambar dalam menggunakan aturan-aturan gambar
menurut standar.
2.
Menyeragamkan penafsiran terhadap cara-cara
penunjukkan dan penggunaan simbol-simbol yang dinyatakan dalam gambar sesuai
dengan penafsiran standar.
3.
Memudahkan komunikasi teknis antar
perancang/pembuat gambar dengan pengguna gambar.
4.
Memudahkan kerjasama antara perusahaan-perusahaan
dalam memproduksi benda-benda teknik dalam jumlah banyak yang harus
diselesaikan dalam waktu yang serempak.
5. Memperlancar
produksi dan pemasaran suku cadang alat-alat
industri.
Standarisasi dalam gambar teknik
yang telah ditetapkan di beberapa negara industri maju adalah:
1. JIS
(Japanese Industrial Standards) merupakan standar industrI di negara
Jepang.
2. NNI
(The Netherlands Standardization Institute), merupakan standarisasi di
negara Belanda.
3. DIN
(Deutsches Institut für Normung), standarisasi di negara Jerman.
4.
ANSI (American National
Standard Institute), standarisasi di negara Amerika.
Di Indonesia
juga terdapat standar. Dahulu namanya Standar Industri Indonesia (SII). Sejak
terbit peraturan pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia,
maka nama SII
diganti dengan SNI
(Standar Nasional
Indonesia).
SNI dikelola oleh Dewan Standarisasi Nasional (DSN) yang sekarang berkedudukan
di Jakarta.
Dengan
meningkatnya kerjasama di tingkat internasional, maka perusahaan/ industri
diharuskan untuk menggunakan standar yang bersifat internasional. Untuk itu
dibentuk badan standar industri yang diberi nama International Organization
for Standardization (ISO).
ISO merupakan
badan non pemerintah yang didirikan pada tanggal 14 Oktober 1946. Tujuan
dibentuknya ISO adalah untuk menyatukan pengertian teknik antar bangsa.
Bidang kerja ISO yang menangani standar gambar teknik disebut ISO/TC 10
(gambar teknik), yang bertugas menstandarkan gambar-gambar teknik agar dapat
diterima di dunia internasional sebagai bahasa
teknik.
Karena
Indonesia merupakan salah satu anggota ISO, maka gambar teknik yang
dibuat sebagai salah satu media penyampaian informasi juga telah mengikuti
standar gambar yang ditetapkan ISO. Sebagai contoh, di dalam dunia industri
pembuatan etiket gambar yang sesuai dengan ISO adalah, kepala gambar
ditempatkan dalam ruang gambar di sudut kanan bawah.
Keterangan
yang dicantumkan dalam kepala gambar harus merupakan keterangan yang secara
umum menunjukkan isi gambar, yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.
Nomor gambar
2.
Judul/nama gambar
3.
Nama instansi/perusahaan
4.
Skala
5.
Nama yang menggambar, yang memeriksa dan yang
mengesahkan atau menyetujui
6.
Cara proyeksi yang digunakan
7.
Keterangan lainnya sesuai keperluan
B.
Kegiatan Belajar
Waktu yang dialokasikan untuk
kegiatan pembelajaran ini adalah 18 jam
pelajaran.
1.
Tujuan Pembelajaran
a.
Memahami fungsi gambar teknik.
b.
Memahami sifat gambar teknik.
c.
Memahami standar ukuran kertas gambar.
d.
Memahami jenis-jenis garis beserta fungsinya.
e.
Memahami standar huruf dan angka.
f.
Memahami tata letak (lay out) gambar teknik.
g.
Mengenal proyeksi.
2.
Uraian Materi
a.
Fungsi Gambar
Teknik
Gambar
adalah sebuah alat komunikasi untuk menyatakan maksud dari seorang ahli teknik.
Oleh karena itu gambar sering juga disebut sebagai bahasa teknik atau bahasa
untuk ahli teknik.
Penerusan
informasi adalah fungsi yang penting untuk bahasa maupun gambar. Gambar
bagaimanapun adalah bahasa teknik. Oleh karena itu gambar diharapkan dapat
meneruskan keterangan-keterangan secara tepat dan obyektif.
Keterangan-keterangan
dalam gambar yang tidak dapat dinyatakan dengan bahasa lisan harus diwakili
oleh lambang-lambang. Karena itu, kualitas keterangan yang dapat diberikan
dalam gambar tergantung dari keterampilan juru gambar (drafter).
Sebagai juru
gambar sangat penting untuk memberikan gambar yang tepat dan mempertimbangkan
kemampuan pembacanya. Untuk pembaca, yang terpenting adalah mengumpulkan
keterangan sebanyak yang dapat dibacanya dengan teliti.
Gambar
teknik memiliki 3 fungsi, yaitu: sarana penyampaian informasi, sarana
penyimpanan informasi dan sebagai konsep.
1) Sarana
Penyampaian Informasi
Gambar
teknik mempunyai fungsi meneruskan informasi dari juru gambar kepada
orang-orang yang bersangkutan, seperti: perencana proses, operator, pemeriksa,
perakit dan sebagainya. Orang-orang yang bersangkutan bukan saja orang-orang
dalam pabrik tetapi juga orang- orang di pabrik lain yang merupakan pihak sub
kontrak (rekanan) ataupun orang-orang berbahasa asing yang berhubungan dengan
rancangan tersebut.
2) Sarana
Pengawetan, Penyimpanan dan Penggunaan Informasi
Gambar
merupakan data teknis yang sangat penting sebagai bahan informasi untuk
perencanaan yang akan datang. Untuk membuat satu unit alat (misalnya mesin)
memerlukan beratus-ratus bahkan beribu- ribu gambar yang harus dibuat. Karena
itu gambar harus diberi nomor (kodifikasi nomor urut). Nomor urut dibuat untuk
memudahkan dalam mencari data/informasi saat merakit atau mereparasi suatu suku cadang.
Selain
diberi nomor, gambar perlu juga disimpan dan diawetkan sebagai informasi untuk
rencana-rencana baru. Penyimpanan gambar ini dapat dilakukan dengan tiga cara,
yaitu:
a)
Disimpan dengan dibendel dengan cara gambar
dikumpulkan, gambar yang mempunyai ukuran besar dilipat sesuai dengan aturan
melipat gambar, diurut sesuai
dengan pengelompokannya kemudian dibendel dalam satu file.
b)
Untuk menghemat tempat, gambar difoto dengan
skala diperkecil dan klisenya disimpan pada kartu berlubang untuk memudahkan
mencari gambar yang diperlukan.
c)
Saat ini gambar dapat dibuat dengan komputer,
maka penyimpanan gambar pun dapat disimpan dalam media CD atau hard disk.
3)
Konsep
Dalam
perencanaan, konsep abstrak yang melintas dalam pikiran diwujudkan dalam bentuk
gambar melalui proses. Awalnya konsep
(ide) dianalisa lalu diwujudkan dalam bentuk gambar untuk kemudian
diteliti dan dievaluasi.
Proses ini
diulang-ulang sehingga didapatkan gambar yang sempurna. Dengan demikian gambar
tidak hanya melukiskan gambar, tetapi berfungsi juga sebagai peningkat daya
pikir untuk perencana. Oleh karena itu seorang lulusan teknik tanpa kemampuan
menggambar akan memiliki kekurangan dalam cara menyampaikan atau menerangkan
sebuah ide.
b.
Sifat Gambar
Teknik
Sifat-sifat gambar dilihat dari
tujuan pembuatannya dapat diuraikan
sebagai berikut:
1) Gambar Internasional
Pada awalnya
standar gambar hanya berlaku di sebuah perusahaan. Antar perusahaan
memiliki standar yang
berbeda. Seiring dengan
meluasnya
perdagangan dan hubungan antar negara maka dibutuhkan standar yang sama secara
internasional.
Pada
akhirnya aturan dan simbol-simbol diseragamkan untuk memperoleh kesamaan
persepsi secara internasional terhadap sebuah gambar.
2)
Gambar Popular
Pesatnya
perkembangan teknologi menyebabkan penggunaan gambar teknik semakin meningkat.
Untuk itu, penetapan standar berfungsi mempopulerkan gambar teknik di semua
kalangan. Hubungan yang erat antara bidang-bidang industri seperti
pemesinan, perkapalan, arsitektur,
teknik sipil menyebabkan tidak mungkin menyelesaikan suatu proyek hanya oleh
satu bidang teknik saja. Untuk itu telah
menjadi suatu keharusan untuk menyediakan keterangan-keterangan gambar
yang dapat dimengerti oleh semua bidang-bidang di atas. Setiap bidang mencoba
untuk menyatukan dan mengidentifikasi standar- standar gambar yang ada.
3)
Gambar Sederhana
Penghematan
tenaga dalam menggambar sangat penting. Bukan hanya untuk mempersingkat waktu
tetapi juga untuk meningkatkan mutu perencanaan dan penghematan biaya.
4)
Gambar Modern
Bersama
pesatnya kemajuan teknologi, standar gambar juga dipaksa untuk mengikutinya
melalui cara-cara modern yang telah dikembangkan, seperti: pembuatan film
mikro, berbagai macam mesin gambar otomatis dan menggambar dengan bantuan
komputer ( CAD – Computer Aided Design).
c.
Standar Ukuran Kertas Gambar
Kertas
gambar mempunyai ukuran panjang dan lebar. Sebagai ukuran pokok dari kertas
gambar, diambil ukuran A0 yang mempunyai luas 1 m2 atau
1.000.000 mm2. Perbandingan lebar dan panjangnya
sama dengan perbandingan sisi bujursangkar dengan diagonalnya.
Jika bujursangkar mempunyai
sisi = x
maka diagonalnya
.
Selanjutnya
x dipakai sebagai lebar kertas gambar dan y sebagai panjang kertas gambar.

Gambar
29. Menentukan ukuran kertas A0
Karena
ukuran kertas gambar A0 mempunyai luas x.y = 1.000.000 mm2, dengan
, maka
= 1.000.000 mm2 sehingga
diperoleh lebar 841 mm (dibulatkan) dan panjang
= 1189 mm.
Untuk
mendapatkan ukuran kertas gambar lainnya adalah dengan cara membagi dua
panjangnya, sehingga ukuran:
1) A1
adalah ½ dari A0.
2) A2
adalah ½ dari A1.
3) A3
adalah ½ dari A2.
4) A4
adalah ½ dari A3.
Sesuai
dengan standar ISO (International Standardization for Organization) dan NNI
(Nederland Normalisatie Instituet) selanjutnya kertas gambar diberi garis tepi
sesuai dengan ukurannya.
Pada tabel
di bawah ditetapkan ukuran batas tepi bawah, tepi atas dan tepi kanan (diwakili
kolom C) sedangkan tepi kiri untuk setiap ukuran kertas gambar ditetapkan 20
mm.
Penetapan
jarak ini dimaksudkan untuk memberikan jarak sehingga jika kertas gambar
dibundel tidak akan mengganggu gambarnya.
Tabel
3. Standar ukuran kertas

d.
Jenis – Jenis
Garis
Selain
pembakuan ukuran kertas gambar, jenis garis pada gambar teknik pun turut
ditetapkan sehingga setiap garis menunjukkan fungsi tersendiri. Terdapat
sedikit perbedaan antar berbagai bidang keteknikan dalam jenis dan fungsi garis
ini.
Tabel 4. Jenis-jenis garis dan penggunaannya (ISO R. 128)

e.
Standar Huruf dan Angka
Huruf dan
angka yang dipakai pada gambar teknik, yang dianjurkan oleh ISO 3098/11974
harus mudah dibaca dan dapat ditulis miring 75°
atau tegak. Contoh atau gambaran dari huruf dan angka yang dipakai pada
gambar teknik adalah sebagai berikut.
1) Penulisan
Huruf dan Angka Tegak

Gambar 30. Huruf dan angka tegak
Sumber:
dc442.4shared.com
2)
Penulisan Huruf dan Angka Miring (75°)

Gambar 31. Huruf dan angka miring
Sumber:
dc442.4shared.com
3)
Ukuran Huruf
Standar
Perbandingan tinggi dan lebar
huruf diambil dari perbandingan ukuran kertas yang distandarkan,
: 1.
Ketentuan – ketentuan ukuran huruf
yang dianjurkan dapat dilihat pada tabel 5 berikut:
Tabel 5. Perbandingan standar huruf dan angka

Keterangan tabel:
a)
Tinggi huruf kecil; tinggi huruf kecil disini
adalah tinggi huruf kecil diantara huruf yang dipakai, tinggi huruf kecil ini
tanpa tangkai dan kaki (huruf b, k, l = bertangkai dan j, g = berkaki).
b)
Tinggi huruf kecil untuk tipe A = (10/14).h dan
untuk tipe B = (7/10).h
c)
Jarak antar huruf; jarak antar huruf disini
adalah jarak antara huruf yang satu dan lainnya dalam satu kata. Untuk tipe A
(2/14).h dan untuk tipe B (2/10).h.
d)
Jarak antar garis; jarak antar garis disini
adalah jarak antara batas bawah huruf besar di atas dan batas atas huruf besar
di bawah.
e)
Jarak antar kata; bila dalam suatu kalimat ada
dua kata yang disambung (misalnya baja nikel) maka jarak antara kata baja dan nikel
tersebut dianjurkan sebagai berikut: untuk penggunaan tipe huruf A jaraknya
6/14.h dan untuk tipe huruf B jaraknya 6/10.h.
f)
Tebal huruf yaitu tebal pena yang digunakan
untuk membuat huruf. Ukuran pena tersebut harus disesuaikan dengan tinggi huruf
dan tipe huruf yang digunakan. Tebal huruf yang dianjurkan untuk tipe A adalah
1/14.h dan untuk tipe B yaitu 1/10.h.
Contoh 1:
Jika huruf mempunyai tinggi h = 14
mm, berapa lebar hurufnya (x = lebar huruf)?
Jawab:
h: x =
: 1
atau ![]()
Dengan h = 14 mm, maka ![]()
Jadi lebar hurufnya adalah 9,899 mm atau
dibulatkan 10 mm.
Contoh 2:
Berapakah tinggi huruf kecil untuk
huruf tipe A dan B bila tinggi huruf besarnya 14 mm?
Jawab:
a)
Tinggi huruf kecil untuk tipe A adalah
(10/14).h, dengan h = 14 mm, maka (10/14).14 = 10 mm.
b)
Tinggi huruf kecil untuk tipe B adalah (7/10).h,
dengan h = 14 mm, maka (7/10).14 = 9,8
mm dibulatkan 10 mm.
Contoh 3:
Berapakah jarak antar garis untuk
huruf tipe A dan B bila tinggi huruf besarnya 14 mm?
Jawab:
a)
Jarak antar garis untuk tipe A adalah (20/14).h,
dengan h = 14 mm, maka (20/14).14 = 20 mm.
b)
Jarak antar garis untuk tipe B adalah (14/10).h,
dengan h = 14 mm, maka (14/10).14 = 19,6 mm dibulatkan 20 mm.

Gambar 32. Jarak antar garis
Contoh 4:
Berapakah jarak antar kata untuk
huruf tipe A dan B bila tinggi huruf besarnya 14 mm?
Jawab:
a)
Jika menggunakan huruf standar tipe A dengan
tinggi 14 mm maka jarak antar katanya adalah (6/14).14 = 6 mm
b)
Bila menggunakan tipe B dengan tinggi huruf 14
mm maka jarak antar katanya adalah (6/10).14 = 8,4 mm.
Contoh 5:
Berapakah tebal huruf untuk tipe A
dan Bila tinggi huruf yang digunakan
tingginya 7 mm?
Jawab:
Jika kita menggunakan tinggi huruf h = 7 mm, maka:
a)
Untuk huruf tipe A, tebal hurufnya adalah (1/14)
x 7 = 0,5 mm.
b)
Untuk huruf tipe B, tebal hurufnya adalah (1/10)
x 7 = 0,7 mm.
Tabel
6. Penerapan huruf dan angka standar

4)
Jenis Huruf
Jenis huruf yang dapat digunakan
dalam gambar teknik antara lain : ISOCT SHX tegak atau miring, Technic bolt TT
dan ISOTEUR miring.

Gambar 33. Jenis huruf technic bolt

Gambar 34. ISOCT SHX miring

Gambar 35. ISOTEUR miring
f.
Tata Letak (lay out)
1) Kepala
Gambar (etiket)
Setiap
gambar kerja yang dibuat, selalu ada etiketnya. Etiket dibuat di sisi kanan
bawah kertas gambar. Pada etiket (kepala gambar) ini kita dapat mencantumkan:
a)
nama yang membuat gambar
b)
judul gambar
c)
nama instansi, departemen atau sekolah
d)
tanggal menggambar atau selesainya gambar
e)
tanggal diperiksanya gambar dan nama pemeriksa
f)
ukuran kertas gambar yang dipakai
g)
skala gambar
h)
jenis proyeksi
i)
satuan ukuran yang digunakan
j)
berbagai data yang diperlukan untuk kelengkapan gambar.
Beberapa contoh etiket beserta
ukurannya dapat dilihat pada gambar berikut:


Gambar 36. Kepala gambar (etiket)
Sumber:
dc442.4shared.com
2)
Skala
Skala
merupakan perbandingan ukuran antar objek pada gambar dengan ukuran benda
sebenarnya. Skala dikelompokkan menjadi: skala sebenarnya, skala diperbesar dan
skala diperkecil.
Bilangan
skala yang direkomendasikan untuk digunakan pada gambar teknik adalah: 1, 2, 5
dan 10.
Tabel 7. Skala pada gambar teknik
|
Kategori |
Skala yang direkomendasikan |
||
|
Skala perbesaran |
50:
1 |
20:
1 |
10:
1 |
|
5:
1 |
2:
1 |
|
|
|
Ukuran
sebenarnya |
|
1: 1 |
|
|
Skala pengecilan |
1: 2 |
1: 5 |
1: 10 |
|
1: 20 |
1: 50 |
1: 100 |
|
|
1: 200 |
1:
500 |
1: 1000 |
|
|
1: 2000 |
1:
5000 |
1: 10000 |
|
Ketentuan penunjukan skala pada gambar
teknik adalah:
a)
Penggunaan tanda skala terdiri dari kata “SKALA”
diikuti oleh rasio.
b)
Kata “SKALA” dapat dihilangkan selama tidak terjadi
kesalahpahaman.
c)
Skala yang digunakan dicantumkan pada etiket.
d)
Jika menggunakan lebih dari satu skala pada satu
gambar, hanya skala utama saja yang ditunjukkan pada etiket. Skala lainnya
ditetapkan berdekatan dengan gambar bagian atau huruf yang menunjukkan detail gambar.
g.
Mengenal Proyeksi
Untuk bisa
membaca gambar, maka terlebih dahulu anda harus memahami informasi yang
terdapat pada gambar tersebut.
Untuk bisa
memahami informasi dari sebuah gambar, antara designer (perancang
gambar), drafter (juru gambar) dan operator (pengguna gambar) harus
mempunyai konsep yang sama sehingga informasi gambar yang dimaksudkan tidak
terjadi salah pengertian di antara ketiga orang tersebut.
Untuk itu designer,
drafter dan operator harus memahami, simbol, ukuran dan skala gambar
yang telah distandarkan. Cara yang lain dapat dilakukan untuk bisa membaca
gambar adalah dengan memahami jenis proyeksi dari gambar tersebut.
Proyeksi
adalah gambar dari benda nyata atau khayalan, yang dilukiskan menurut
garis-garis pandangan pengamat pada suatu bidang datar/ bidang gambar. Proyeksi
juga berfungsi untuk menyatakan wujud benda dalam bentuk gambar yang
diperlukan.
Proyeksi dikelompokkan atas 2
klasifikasi yaitu proyeksi piktorial dan proyeksi ortogonal.

Gambar 37. Jenis-jenis proyeksi
1)
Proyeksi Piktorial
Proyeksi
piktorial adalah cara menampilkan gambar benda yang mendekati bentuk dan ukuran
sebenarnya secara tiga dimensi, dengan pandangan tunggal. Gambar piktorial
disebut juga gambar ilustrasi, tetapi tidak semua gambar ilustrasi termasuk
gambar piktorial.
Dari contoh
berikut dapat dibedakan gambar ilustrasi teknik jenis piktorial dan yang bukan
piktorial.

Gambar 38. Proyeksi piktorial

Gambar 39. Proyeksi non piktorial
2)
Proyeksi Aksonometri
Proyeksi
aksonometri merupakan salah satu jenis proyeksi piktorial. Proyeksi ini
merupakan proyeksi gambar dimana bidang-bidang atau tepi benda dimiringkan
terhadap bidang proyeksi, maka tiga muka dari benda tersebut akan terlihat
serentak dan memberikan gambaran bentuk benda seperti sebenarnya.

Gambar 40. Proyeksi aksonometri

Gambar 41. Perbandingan beberapa jenis
proyeksi piktorial
3)
Proyeksi Isometri
Proyeksi
isometri menyajikan benda dengan tepat, karena panjang garis pada
sumbu-sumbunya menggambarkan panjang sebenarnya. Cara menggambarnya sangat
sederhana karena tidak ada ukuran-ukuran benda yang mengalami skala
perpendekan.
Gambar
menampilkan kedudukan sumbu-sumbu isometri, yang dapat dipilih sesuai dengan
tujuan dan hasil yang akan memberikan kesan gambar paling jelas.

Gambar 42. Proyeksi isometrik
4)
Proyeksi Dimetri
Proyeksi dimetri
merupakan penyempurnaan dari gambar isometri, dimana garis-garis yang
tumpang-tindih yang terdapat pada gambar isometri, pada gambar dimetri tidak
kelihatan lagi.

Gambar
43. Proyeksi dimetri
5)
Proyeksi Trimetri
Proyeksi
trimetri merupakan proyeksi yang berpatokan kepada besarnya sudut antara
sumbu-sumbu (x,y,z) dan panjang garis sumbu- sumbu tersebut. Sudut proyeksi
trimetri adalah 20° untuk alfa dan 30° untuk beta atau 10° untuk alfa dan 20° untuk beta.

Gambar
44. Proyeksi trimetri
Sumber:
lgp-unhas.blogspot.com
6)
Proyeksi Miring
(Oblique)
Proyeksi
miring merupakan proyeksi gambar dimana garis-garis proyeksi tidak tegak lurus
bidang proyeksi, tetapi membentuk sudut sembarang (miring). Permukaan depan
dari benda pada proyeksi ditempatkan dengan bidang kerja proyeksi sehingga
bentuk permukaan depan tergambar seperti sebenarnya.

Gambar 45. Proyeksi miring
Jika
kedalaman benda sama dengan panjang sebenarnya disebut proyeksi miring cavalier,
sedangkan untuk panjang kedalaman yang diperpendek disebut dengan proyeksi
miring cabinet. Gambar oblique biasanya dimulai dengan 3 basis
sumbu yaitu 0°,
45° dan 90°.
7)
Proyeksi Perspektif
Proyeksi
perspektif merupakan proyeksi piktorial yang terbaik kesan visualnya, tetapi
cara penggambarannya sangat sulit dan rumit, apalagi untuk menggambar
bagian-bagian yang rumit dan kecil. Pada proyeksi perspektif garis-garis
pandangan (garis proyeksi) di pusatkan pada satu atau beberapa titik. Titik
tersebut dianggap sebagai mata pengamat. Bayangan yang terbentuk pada bidang
proyeksi disebut dengan gambar perspektif.

Gambar 46. Proyeksi perspektif
8)
Proyeksi Ortogonal
Proyeksi
ortogonal adalah gambar proyeksi yang bidang proyeksinya mempunyai sudut tegak
lurus terhadap proyektornya. Proyektor adalah garis-garis yang memproyeksikan
benda terhadap bidang proyeksi.

Gambar 47. Proyeksi ortogonal
9)
Proyeksi Eropa
Proyeksi
Eropa termasuk kedalam jenis proyeksi ortogonal, disebut juga proyeksi sudut pertama atau proyeksi
kwadran I. Proyeksi Eropa merupakan proyeksi yang letaknya terbalik dengan
arah pandangnya. Coba kita perhatikan kembali gambar dibawah ini, dengan
model yang sama kita proyeksikan gambar tersebut kedalam proyeksi Eropa.

Gambar 48. Proyeksi Eropa
10) Proyeksi Amerika
Proyeksi
Amerika disebut juga proyeksi sudut ketiga atau proyeksi kwadran III, ,
perbedaan istilah ini tergantung dari masing-masing pengarang yang menjadi
refernsi. Proyekasi Amerika merupakan proyeksi yang letak bidangnya sama
dengan arah pandangannya. Coba perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 49. Proyeksi Amerika
Proyeksi
Eropa dan Amerika akan dibahas lebih rinci pada kegiatan pembelajaran 4.






0 komentar:
Posting Komentar